Sejarah PSPS Pekanbaru: Mengenang Era “Los Galacticos” Askar Bertuah yang Mengguncang Pulau Sumatera

AnakBola.org – Pulau Sumatera selalu menjadi salah satu lumbung kekuatan sepak bola terbesar di Indonesia. Jika Semen Padang terkenal dengan pembinaan lokalnya, dan Sriwijaya FC dengan gelimang trofinya, maka Riau pernah memiliki sebuah tim yang dijuluki sebagai “Real Madrid-nya Sumatera”. Klub tersebut adalah PSPS Pekanbaru.
Berjuluk “Askar Bertuah” atau “Tapir Sumatera”, klub yang bermarkas di Stadion Kaharudin Nasution (Rumbai) ini pernah membuat gebrakan luar biasa di kasta tertinggi Indonesia Super League (ISL) pada dekade 2000-an. Memiliki kekuatan finansial yang sangat masif di eranya, PSPS berani membangun skuad impian yang membuat nyali tim-tim besar dari ibu kota ciut sebelum bertanding.
Era Bintang Bertabur Rupiah (Galacticos) Masa paling gila dan tak terlupakan bagi kelompok suporter Asykar Theking terjadi sekitar awal dekade 2000-an hingga musim 2009/2010. Saat klub-klub lain berhemat, manajemen PSPS Pekanbaru justru jor-joran mendatangkan pemain berlabel bintang satu dengan harga fantastis.
Pada masa kejayaannya, mereka pernah mengumpulkan legenda-legenda Timnas Indonesia dalam satu tim: Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Uston Nawawi, Hendro Kartiko, hingga Erol Iba. Mereka digabungkan dengan pemain asing kelas wahid.
Koneksi Afrika yang Mematikan Pada era ISL 2009/2010, PSPS dikenal memiliki “Koneksi Kamerun/Afrika” yang sangat mengerikan. Lini depan mereka diisi oleh predator berbadan raksasa seperti Herman Dzumafo Epandi, Emile Mbamba, Patrice Nzekou, hingga Cyril Tchana.
Kekuatan fisik pemain asing PSPS saat itu benar-benar mengintimidasi. Saat bermain siang hari di cuaca terik Kota Pekanbaru, bek-bek lawan yang mencoba beradu bodi dengan Dzumafo atau Mbamba sering kali terpental dan kehabisan napas. Stadion Rumbai pun menjadi benteng yang sangat angker dan angkuh.
Kejatuhan Finansial yang Menyakitkan Sayangnya, membangun tim dengan cara instan layaknya “Los Galacticos” memiliki risiko yang sangat mematikan. Ketika keran dana APBD mulai dilarang untuk klub profesional dan pihak sponsor perlahan menarik diri, PSPS Pekanbaru dihantam badai krisis finansial yang luar biasa parah.
Tunggakan gaji pemain berbulan-bulan membuat skuad bintang tersebut hancur lebur dan eksodus (bedol desa) meninggalkan Riau. PSPS akhirnya terdegradasi dari kasta tertinggi dan harus berjuang keras di Liga 2 hingga berganti nama menjadi PSPS Riau. Meski masa kejayaan itu telah berlalu, keberanian Askar Bertuah membangun skuad termewah di zamannya akan selalu menjadi cerita legendaris di tanah Sumatera.
