Insiden “The Slip” Steven Gerrard: Terpelesetnya Sang Kapten yang Mengubur Mimpi Juara Liverpool 2014

0

AnakBola.org – Kisah sepak bola tidak melulu tentang kemenangan gemilang pahlawan di akhir cerita. Kadang, nasib menuliskan skenario yang sangat kejam, mengubah pahlawan terbesar menjadi tokoh tragis karena satu kesalahan kecil yang di luar kendali. Itulah yang dialami oleh kapten legendaris Liverpool, Steven Gerrard, pada penghujung musim Premier League 2013/2014.

Insiden yang dikenal dunia dengan sebutan “The Slip” (Momen Terpeleset) ini adalah salah satu plot twist paling menyesakkan dada dalam sejarah kompetisi Inggris, sebuah pelajaran bahwa trofi belum benar-benar milik Anda sampai peluit akhir dibunyikan.

“This Does Not F*cking Slip Now!”

Pada musim tersebut, Liverpool asuhan Brendan Rodgers sedang dalam performa gila. Didorong oleh ketajaman Luis Suarez dan Daniel Sturridge, mereka memimpin klasemen. Steven Gerrard, yang sepanjang kariernya mengabdi untuk Liverpool namun belum pernah menjuarai Premier League, bermain bagaikan orang yang kesurupan mengejar takdirnya.

Dua pekan sebelum insiden, setelah mengalahkan rival gelar juara Manchester City 3-2, Gerrard mengumpulkan rekan-rekannya dalam sebuah pelukan lingkaran di tengah lapangan. Sambil menangis emosional, ia berteriak memperingatkan timnya: “This does not fcking slip now! We go again!”* (Kita tidak boleh terpeleset sekarang! Kita hajar lagi!). Ironisnya, kalimat penyemangat itu justru menjadi ramalan malapetaka bagi dirinya sendiri.

Detik-detik Kematian Mimpi di Anfield

Tanggal 27 April 2014, Liverpool menjamu Chelsea di Anfield. Hasil imbang sebenarnya sudah cukup bagus bagi The Reds. Namun, di masa injury time babak pertama, sebuah tragedi terjadi di garis tengah pertahanan Liverpool.

Menerima operan pendek mendatar yang biasa saja dari Mamadou Sakho, kaki Gerrard kehilangan cengkeraman (grip) di atas rumput. Sang kapten terpeleset dan jatuh tengkurap. Striker Chelsea, Demba Ba, bagaikan hiu yang mencium bau darah, langsung merebut bola tersebut, berlari sendirian ke gawang, dan mencetak gol.

Suasana Anfield yang tadinya bergemuruh berubah menjadi sunyi senyap. Kepercayaan diri Liverpool runtuh. Di babak kedua, Chelsea yang dilatih Jose Mourinho (raja parkir bus) bertahan total dan akhirnya mencetak gol kedua di menit akhir (Willian). Liverpool kalah 2-0.

Luka yang Dibawa Sampai Pensiun

Kekalahan itu menghancurkan mental Liverpool. Di laga berikutnya melawan Crystal Palace (Crystanbul), mereka membuang keunggulan 3-0 menjadi 3-3, yang secara matematis menyerahkan gelar juara Liga Inggris kepada Manchester City.

Bagi suporter klub rival, lagu “Steve Gerrard, Gerrard… He slipped on his fcking arse”* menjadi nyanyian ejekan mingguan. Bagi Gerrard sendiri, itu adalah trauma. Dalam otobiografinya, ia mengaku menangis tak terkendali di dalam mobil sepulang dari stadion, merasa bahwa ia sendirilah yang membunuh mimpi jutaan Kopites (suporter Liverpool). The Slip akan selalu dikenang sebagai peringatan paling brutal bahwa di Premier League, Anda tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *