Profil Evgheni Khmaruk: Kiper Raksasa Asal Moldova yang Pernah Adu Jotos dengan Cristian Gonzales

AnakBola.org – Sejarah penjaga gawang asing di Liga Indonesia selalu dipenuhi oleh karakter-karakter unik. Namun, jika kita mencari sosok kiper yang paling temperamental, eksentrik, dan berpostur raksasa, nama Evgheni Khmaruk tidak akan mungkin terlewatkan.
Datang jauh-jauh dari negara Eropa Timur, Moldova, Khmaruk pernah menjadi palang pintu terakhir andalan Persija Jakarta pada musim 2007/2008. Meski masa baktinya di ibu kota tidak terlalu panjang, ia meninggalkan jejak yang sangat membekas—bukan hanya karena refleksnya yang menawan, tetapi karena sebuah insiden perkelahian paling ikonik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Tembok Kokoh Berpostur Raksasa
Evgheni Khmaruk bukanlah kiper sembarangan. Sebelum datang ke Indonesia, ia berstatus sebagai kiper Timnas Moldova. Dengan tinggi badan mencapai 190 cm dan postur tubuh yang sangat kekar, kehadirannya di bawah mistar gawang membuat striker-striker lokal Liga Indonesia merasa terintimidasi.
Khmaruk memiliki jangkauan tangan yang sangat panjang. Kelebihannya adalah memotong umpan silang (crossing) di udara. Saat terjadi tendangan sudut, ia bisa dengan mudah melompat dan memetik bola di atas kepala bek-bek lawan. Sayangnya, kualitas kiper berlabel Eropa ini sering kali dirusak oleh emosinya yang sangat mudah meledak (short-tempered).
Insiden Berdarah vs Cristian Gonzales
Momen yang membuat nama Evgheni Khmaruk abadi dalam ingatan pencinta sepak bola nasional terjadi pada ajang Babak 8 Besar Copa Indonesia 2007. Saat itu, Persija Jakarta berhadapan dengan Persik Kediri di Stadion Manahan, Solo. Laga berlangsung dengan tensi yang sangat tinggi dan panas.
Puncaknya terjadi ketika Khmaruk berbenturan fisik dengan striker mematikan Persik, Cristian “El Loco” Gonzales. Keduanya terlibat cekcok mulut yang berujung pada aksi saling pukul dan adu jotos yang brutal di tengah lapangan! Pemain dari kedua tim dan pihak keamanan harus turun tangan susah payah untuk melerai dua raksasa asing yang sedang mengamuk tersebut.
Akhir Karier yang Anti-Klimaks di Indonesia
Akibat insiden memalukan tersebut, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan hukuman yang sangat berat. Evgheni Khmaruk mendapat sanksi larangan bermain dan denda yang membuatnya harus mengakhiri kariernya di Indonesia secara prematur. Ia akhirnya pulang ke Eropa Timur.
Meski kariernya di Persija harus berakhir dengan status “buronan Komdis”, kualitas Evgheni Khmaruk tetap diakui oleh Jakmania. Ia adalah bukti bahwa Liga Indonesia pernah menjadi panggung yang menarik bagi pemain-pemain berlabel Timnas dari Eropa, lengkap dengan segala dramanya.
