Edukasi Bola: Mengenang “Golden Goal” dan “Silver Goal”, Aturan Brutal yang Akhirnya Dihapus FIFA

AnakBola.org – Bagi penonton sepak bola milenial dan Gen Z, jika sebuah pertandingan sistem gugur (knock-out) berakhir imbang dalam 90 menit, solusinya sudah sangat jelas: Dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu (Extra Time) 2×15 menit. Jika masih imbang, maka akan diselesaikan lewat adu penalti.
Namun, tahukah Anda bahwa pada era 1990-an hingga awal 2000-an, FIFA pernah menerapkan format yang sangat brutal dan memicu serangan jantung bernama Golden Goal (Gol Emas) dan kemudian diubah menjadi Silver Goal (Gol Perak)? Mengapa aturan yang sangat dramatis ini akhirnya dihilangkan dari sejarah sepak bola? Mari kita bernostalgia dan mengedukasi diri!
Kekejaman Sistem “Golden Goal” (Sudden Death) Diterapkan secara resmi pada tahun 1996, aturan Golden Goal berbunyi: “Tim pertama yang berhasil mencetak gol di masa Extra Time (perpanjangan waktu) akan langsung dinyatakan sebagai pemenang, dan pertandingan LANGSUNG BERHENTI saat itu juga.”
Sistem ini sering disebut Sudden Death (Kematian Mendadak). Salah satu momen paling terkenal adalah saat Olivier Bierhoff mencetak Golden Goal untuk Jerman di Final Euro 1996, dan David Trezeguet untuk Prancis di Final Euro 2000.
Awalnya, FIFA berharap aturan ini membuat tim bermain lebih menyerang untuk mencari gol kemenangan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya! Karena satu kesalahan kecil bisa membuat tim langsung kalah tanpa ada kesempatan membalas, pelatih dan pemain menjadi sangat ketakutan. Mereka bermain “parkir bus”, super defensif, dan hanya menunggu adu penalti. Pertandingan menjadi sangat membosankan dan tingkat stres pemain melonjak tajam.
Transisi Singkat ke “Silver Goal”
Menyadari kelemahan Golden Goal, UEFA mencoba bereksperimen dengan aturan Silver Goal pada Euro 2004. Aturannya: Jika sebuah tim mencetak gol di paruh pertama Extra Time (15 menit pertama), pertandingan TIDAK langsung berhenti. Tim yang tertinggal masih punya waktu untuk membalas hingga peluit akhir babak 15 menit pertama tersebut ditiup. Jika babak pertama Extra Time selesai dan skor berubah, maka pertandingan selesai.
Namun, aturan ini dianggap terlalu rumit, membingungkan penonton, dan sama tidak adilnya dengan Golden Goal.
Kembali ke Aturan Klasik
Karena kedua eksperimen tersebut terbukti gagal memperbaiki kualitas pertandingan dan malah memicu permainan negatif (takut kebobolan), FIFA dan IFAB akhirnya resmi menghapus aturan Golden Goal dan Silver Goal setelah tahun 2004. Sepak bola pun kembali ke aturan klasik: Extra Time dimainkan penuh 2×15 menit, memberikan keadilan dan kesempatan yang sama bagi tim yang kebobolan untuk bangkit dan melawan balik.
