Sejarah Persidafon Dafonsoro: Mengenang “Gabus Sentani” Penggebrak Sepak Bola Papua di Era ISL

AnakBola.org – Ketika membicarakan kekuatan sepak bola dari ujung timur Indonesia, nama Persipura Jayapura seolah menutupi sinar klub-klub lain di tanah Papua. Padahal, pada awal dekade 2010-an, ada sebuah klub tetangga yang sukses mencuri perhatian nasional dan meramaikan panasnya persaingan Indonesia Super League (ISL). Klub tersebut adalah Persidafon Dafonsoro.
Membawa identitas kuat dari Kabupaten Jayapura, Persidafon mengusung julukan “Gabus Sentani” (merujuk pada ikan gabus endemik Danau Sentani yang tangguh dan predator). Klub ini adalah wadah berkumpulnya talenta-talenta luar biasa Papua yang menyajikan permainan cepat, keras, dan sangat menghibur.
Masa Kejayaan dan “Bedol Desa” Bintang Papua
Puncak popularitas Persidafon Dafonsoro terjadi pada musim ISL 2011/2012. Saat itu, mereka bermarkas di Stadion Barnabas Youwe, Sentani. Yang membuat Persidafon begitu spesial pada era tersebut adalah komposisi skuadnya yang bertabur bintang lokal papan atas.
Manajemen Persidafon melakukan manuver transfer brilian dengan mendatangkan legenda hidup Papua, Eduard Ivakdalam, yang baru saja dilepas oleh Persipura. Kehadiran “Pace Edu” sebagai jenderal lapangan tengah dipadukan dengan striker-striker muda Papua yang sedang meledak saat itu, seperti Patrich Wanggai dan Yohanes Ferinando Pahabol. Duet Wanggai dan Pahabol di lini depan, disuplai oleh umpan magis Eduard Ivakdalam, membuat Persidafon menjadi mesin pencetak gol yang sangat ditakuti tim-tim besar dari Pulau Jawa.
Keangkeran Stadion Barnabas Youwe
Seperti mayoritas klub Papua lainnya, kekuatan utama Persidafon terletak pada rekor kandang mereka. Stadion Barnabas Youwe mungkin tidak semegah Stadion Mandala, namun atmosfernya sangat intimidatif.
Kondisi cuaca Sentani yang terik, ditambah gaya permainan anak-anak Gabus Sentani yang mengandalkan kecepatan sprint dan adu fisik selama 90 menit penuh, sering kali membuat pemain lawan kehabisan napas dan kehilangan fokus di babak kedua.
Nasib Tragis Sang Gabus Sentani Sayangnya, eksistensi Persidafon di kasta tertinggi tidak berumur panjang. Masalah klasik yang sering menimpa klub perserikatan—yakni krisis finansial setelah pelarangan penggunaan dana APBD—membuat klub ini perlahan goyah. Ditinggal para pemain bintangnya yang hijrah ke klub kaya, Persidafon akhirnya harus terdegradasi dan kini namanya nyaris tak terdengar lagi di kompetisi profesional. Meski begitu, memori tentang agresivitas Gabus Sentani akan selalu menjadi kepingan indah dalam sejarah sepak bola Papua.
