Profil Patricio Jimenez: Bek Elegan Asal Cile yang Menggemparkan Indonesia Lewat Penalti Mata Tertutup

AnakBola.org – Di jagat sepak bola profesional yang sangat menjunjung tinggi hasil akhir, mengeksekusi tendangan penalti adalah momen yang sangat menegangkan. Namun, pada tahun 2007, seorang bek asing asal Cile melakukan aksi “gila” yang mungkin tidak akan berani dilakukan oleh Cristiano Ronaldo sekalipun di laga resmi. Ia menendang penalti dengan mata tertutup kain!
Sosok nyentrik dan penuh nyali tersebut adalah Patricio Jimenez Diaz, atau yang akrab disapa Pato. Memiliki rekam jejak panjang membela klub-klub mapan seperti Semen Padang, Persib Bandung, dan Sriwijaya FC, Pato tidak hanya dikenal karena pertahanannya yang kokoh, tetapi juga karena selebrasi dan aksinya yang menghibur penonton.
Momen Gila di Copa Indonesia 2007
Kejadian legendaris tersebut terjadi saat Patricio Jimenez berseragam Persib Bandung. Persib sedang menghadapi Persijap Jepara di ajang Copa Indonesia (Piala Indonesia) dan pertandingan harus diselesaikan lewat adu penalti.
Ketika giliran Pato menendang, ia tiba-tiba mengambil headband (kain ikat kepala) berwarna biru yang sering dipakainya, lalu menurunkannya untuk menutup kedua matanya. Wasit dan penonton terdiam kebingungan. Dengan mata tertutup rapat, Pato mengambil ancang-ancang, dan menendang bola dengan santai mengecoh kiper Persijap. Gol! Aksi tengil namun berkelas itu langsung menjadi headline di berbagai media nasional.
Bek Tangguh dengan Skill Playmaker
Meski aksi penaltinya yang paling diingat, kualitas Pato Jimenez di lini belakang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah tipe bek modern (Ball-Playing Defender) yang pada zamannya sangat langka di Indonesia.
Pato tidak suka menyapu bola dengan sembarangan. Ia sangat tenang mengontrol bola dari garis pertahanan, mampu mendribel melewati penyerang lawan, dan melepaskan umpan jauh (long diagonal pass) yang mematikan. Ia juga dianugerahi akurasi tendangan bebas (free kick) yang sering memecah kebuntuan tim, sebuah skill yang ia asah di tanah kelahirannya, Amerika Selatan.
Pensiun dan Cinta Indonesia
Sikapnya yang profesional, ramah, dan fasih berbahasa Indonesia membuatnya sangat mudah beradaptasi dan dicintai oleh Bobotoh, Spartacks, hingga suporter Sriwijaya FC. Saking cintanya pada Indonesia, Pato memilih menetap di Tanah Air setelah pensiun dan melanjutkan karier sebagai pelatih. Aksi penalti mata tertutupnya akan selalu menjadi salah satu momen paling epik dalam sejarah sepak bola nasional.
