Sejarah Assyabaab Surabaya: Mengenang Jejak Emas Klub Legendaris Galatama Kebanggaan Kampung Ampel

0

AnakBola.org – Surabaya bukan hanya tentang Persebaya atau Niac Mitra. Di lorong-lorong sempit dan nuansa religius kawasan Ampel, bagian utara Surabaya, pernah lahir sebuah kekuatan sepak bola yang sangat disegani di kancah nasional: Assyabaab Surabaya.

Klub yang didirikan pada tahun 1948 (awalnya bernama Al-Faouz) ini memiliki identitas yang sangat unik karena diinisiasi oleh masyarakat keturunan Arab yang bermukim di kawasan Ampel. Assyabaab bukan sekadar klub kampung, melainkan “Pabrik Bintang” yang menyuplai puluhan legenda untuk Timnas Indonesia dan merajai kompetisi Galatama.

Gudang Legenda Sepak Bola Nasional

Di era 1960-an hingga 1980-an, Assyabaab dikenal dengan gaya permainannya yang memadukan teknik tinggi dan fisik yang prima. Hal ini tidak lepas dari postur tubuh para pemain keturunan Arab yang ideal untuk sepak bola.

Dari rahim Assyabaab, lahir nama-nama besar yang menjadi legenda abadi sepak bola Indonesia. Sebut saja Rusdy Bahalwan (bek tangguh dan pelatih legendaris Persebaya), Muhammad Zein Alhadad, Mustaqim, hingga kiper legendaris Yudi Guntara. Klub ini ibarat akademi elite yang secara konsisten mencetak talenta-talenta luar biasa sebelum mereka direkrut oleh klub-klub besar Perserikatan.

Masa Galatama dan Sokongan Salim Group

Puncak eksistensi profesional Assyabaab terjadi ketika mereka terjun ke kompetisi Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Karena membutuhkan dana besar, klub ini akhirnya diakuisisi oleh perusahaan raksasa, Salim Group, pada tahun 1990 dan berganti nama menjadi Assyabaab Salim Grup (ASG) Surabaya.

Dengan sokongan dana melimpah, ASG bermarkas di Stadion Gelora 10 November dan memiliki fasilitas latihan sendiri yang mewah pada zamannya. Skuad mereka semakin menakutkan dengan hadirnya legiun asing berkualitas dan pelatih top. Mereka sempat mewakili Indonesia di ajang Piala Winners Asia.

Akhir Perjalanan Sang Bintang Ampel

Sayangnya, krisis moneter yang menghantam Indonesia pada tahun 1997-1998 membuat Salim Group menarik seluruh pendanaannya dari sepak bola. Kehilangan penyokong dana utama, Assyabaab terpaksa mundur dari kompetisi profesional dan akhirnya bubar. Meski kini klub tersebut hanya tersisa sebagai memori, nama Assyabaab akan selalu terukir dengan tinta emas sebagai salah satu fondasi terkuat pembinaan sepak bola di Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *