Sejarah Niac Mitra Surabaya: Raksasa Era Galatama yang Sukses Menumbangkan Arsenal

AnakBola.org – Jika kita berbicara tentang klub sepak bola asal Surabaya, nama Persebaya selalu menjadi yang pertama muncul di benak publik. Namun, pada era 1980-an, tepatnya saat kompetisi semi-profesional Galatama (Liga Sepak Bola Utama) sedang berada di puncak kejayaannya, Surabaya memiliki satu lagi raksasa sepak bola yang prestasinya terdengar hingga ke benua Eropa. Klub legendaris tersebut adalah Niac Mitra.
Didirikan pada tahun 1978 oleh seorang pengusaha gila bola bernama A. Wenas, Niac Mitra (New International Amusement Center Mitra) bukan sekadar klub pelengkap. Mereka adalah pionir klub profesional dengan fasilitas mewah, manajemen modern, dan sejarah epik yang sukses mencoreng wajah klub raksasa Liga Inggris, Arsenal.
Menguasai Galatama dengan Bintang Asia
Niac Mitra langsung mendobrak tradisi sepak bola Indonesia pada masa itu. Ketika klub-klub Perserikatan masih sangat bergantung pada dana pemerintah daerah, Niac Mitra berdiri mandiri dengan kekuatan finansial yang sangat kuat. A. Wenas tidak segan merogoh kocek dalam-dalam untuk merekrut pemain-pemain terbaik nasional seperti Joko Malis dan Rudy Keljes.
Langkah paling fenomenal Niac Mitra adalah saat mereka mendatangkan dua bintang sepak bola dari negara tetangga, Singapura, yaitu Fandi Ahmad dan David Lee. Kehadiran Fandi Ahmad (yang saat itu berstatus sebagai salah satu pemain terbaik di Asia Tenggara) membuat lini depan Niac Mitra menjadi mesin gol yang tak terbendung. Bersama pelatih M. Basri, Niac Mitra sukses merengkuh gelar Juara Galatama berulang kali pada awal dekade 80-an.
Malam Bersejarah Mengalahkan Arsenal (1983)
Momen yang membuat nama Niac Mitra abadi dalam sejarah sepak bola Asia terjadi pada 16 Juni 1983. Saat itu, klub raksasa Liga Inggris, Arsenal, melakukan tur pra-musim ke Indonesia dan bertanding di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya.
Arsenal saat itu dilatih oleh Terry Neill dan diperkuat legenda seperti David O’Leary dan Pat Jennings. Namun, di hadapan puluhan ribu pasang mata warga Surabaya, Niac Mitra tampil kesetanan. Berkat gol dari Fandi Ahmad dan Joko Malis, Niac Mitra sukses menumbangkan Arsenal dengan skor meyakinkan 2-0! Kekalahan tersebut menjadi tajuk utama di berbagai media internasional dan menaikkan pamor sepak bola Indonesia.
Akhir Tragis Sang Raksasa Galatama
Sayangnya, kedigdayaan Niac Mitra harus berakhir tragis bukan karena kalah bersaing di lapangan, melainkan karena regulasi. Pada akhir 1980-an, PSSI mengeluarkan aturan larangan penggunaan pemain asing di kompetisi Galatama. Merasa aturan tersebut merugikan dan menurunkan kualitas kompetisi, A. Wenas memutuskan untuk membubarkan Niac Mitra pada tahun 1990. Meski klubnya telah tiada, memori tentang malam kemenangan melawan Arsenal akan selalu menjadi cerita pengantar tidur yang membanggakan bagi pecinta sepak bola Surabaya.
