Profil Ricardo Kaka: Pangeran San Siro Penakluk Eropa Sebelum Era Dominasi Alien (Messi & Ronaldo)

AnakBola.org – Selama lebih dari satu dekade (2008-2017), dunia sepak bola benar-benar dimonopoli oleh persaingan dua “alien”: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Mereka bergantian memenangkan penghargaan Ballon d’Or. Namun, tahukah Anda siapa manusia terakhir yang berhasil menaklukkan penghargaan individu tertinggi tersebut sebelum era dominasi gila itu dimulai? Dia adalah Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau yang dunia kenal dengan nama Kaka.
Datang dari Brasil, Kaka sama sekali tidak merepresentasikan stereotip pemain Amerika Selatan yang suka memamerkan trik-trik juggling nakal. Kaka adalah “Pangeran”. Wajahnya rupawan, sikapnya sangat religius, dan gaya mainnya sangat vertikal, elegan, namun berkecepatan mematikan layaknya peluru kendali.
Masa Keemasan di AC Milan (2003-2009)
Puncak performa Kaka terjadi di klub raksasa Italia, AC Milan. Bermain dalam formasi “Pohon Natal” 4-3-2-1 racikan Carlo Ancelotti, Kaka ditempatkan sebagai gelandang serang (Trequartista) bebas di belakang striker.
Kelebihan utama Kaka yang paling ditakuti lawan adalah akselerasinya saat menggiring bola. Saat melakukan sprint (lari cepat), bola seolah menempel di kakinya. Sangat sulit bagi bek tengah untuk melakukan tekel karena Kaka bisa menjaga keseimbangan tubuhnya pada kecepatan maksimal. Begitu ia mendapatkan ruang di depan kotak penalti, tembakan terarahnya hampir selalu berbuah gol.
Gol Solo Magis Melawan Manchester United
Jika ada satu pertandingan yang merangkum kehebatan Kaka, itu adalah laga Semifinal Liga Champions 2006/2007 melawan Manchester United di Old Trafford. Dalam satu momen transisi cepat, Kaka menerima bola jauh di depan.
Dengan kecerdasan taktis dan kecepatan luar biasa, Kaka mempermainkan dua bek kuat MU, Gabriel Heinze dan Patrice Evra. Ia menyundul bola ringan di antara keduanya, membuat kedua bek tersebut justru saling bertabrakan satu sama lain hingga terjatuh konyol. Kaka kemudian melaju sendirian dan menaklukkan kiper Edwin van der Sar. Itu adalah karya seni murni yang membuat seisi Old Trafford terdiam kagum.
Puncak Karier dan Akhir yang Redup di Madrid
Pada tahun 2007, Kaka memimpin AC Milan menjuarai Liga Champions (membalas dendam dari kekalahan Istanbul) dan secara mutlak memenangkan trofi Ballon d’Or. Sayangnya, saat ia pindah ke Real Madrid pada 2009 sebagai bagian dari proyek Galacticos baru bersama Cristiano Ronaldo, kariernya sering diganggu oleh cedera lutut yang parah. Kecepatannya merosot tajam.
Meski kariernya di Madrid tidak sementereng di Milan, kenangan akan sosok pemuda Brasil berwajah kalem yang sering mengangkat jarinya ke langit untuk berterima kasih kepada Tuhan ( “I Belong to Jesus” ) akan selalu menjadi simbol masa keemasan sepak bola era pertengahan 2000-an.
