Jejak Tijani Belaid: Mantan Gelandang Inter Milan yang Gagal Bersinar Terang Bersama Sriwijaya FC

AnakBola.org – Pada Liga 1 musim 2017, euforia perekrutan Marquee Player membuat banyak klub melakukan investasi besar-besaran. Sriwijaya FC (SFC), raksasa asal Sumatera Selatan, tak mau ketinggalan dengan mendatangkan Tijani Belaid.
Resume pemain asal Tunisia ini sangat menyilaukan mata pecinta sepak bola lokal. Ia merupakan produk akademi dan mantan pemain tim raksasa Serie A Italia, Inter Milan, serta pernah bermain untuk PSV Eindhoven. Kedatangannya disambut gegap gempita oleh publik Palembang yang berharap ia menjadi playmaker (pengatur serangan) kelas dunia di lini tengah Laskar Wong Kito.
Kelemahan Kebugaran Fisik
Berposisi sebagai gelandang serang, Tijani memang memiliki visi bermain khas jebolan Eropa. Ia beberapa kali menunjukkan sentuhan magis lewat umpan terobosan (through pass) dan akurasi tendangan bebas (free kick) yang cukup mematikan.
Namun, di luar kemampuan bola matinya, Tijani memiliki satu kelemahan fatal: Mobilitas dan Kebugaran. Di kompetisi Liga 1, seorang gelandang asing dituntut untuk memiliki daya jelajah yang sangat tinggi (box-to-box), mau turun bertahan saat kehilangan bola, dan bertarung secara fisik. Tijani dinilai terlalu “malas” bergerak dan sering kali lambat turun saat terkena counter attack (serangan balik).
Gagal Membawa SFC ke Papan Atas
Permainan Sriwijaya FC saat itu dinilai terlalu bergantung pada peran Tijani, padahal sang pemain sering kehabisan bensin di babak kedua akibat panasnya cuaca dan intensitas pertandingan. Manajemen dan suporter yang mengharapkan gelar juara mulai kecewa karena kontribusinya tidak sebanding dengan status kebintangannya.
Setelah musim 2017 berakhir, kontrak Tijani Belaid tidak diperpanjang. Kiprahnya di Indonesia meninggalkan pelajaran bahwa kreativitas di lini tengah harus selalu ditunjang oleh stamina yang mumpuni untuk bertahan hidup di liga yang super keras.
