Keajaiban Leicester City 2015/2016: Dongeng Juara Liga Inggris Paling Gila dengan Peluang 5000 Berbanding 1

0

AnakBola.org – Dalam sepak bola modern, uang adalah raja. Klub-klub “Sultan” dengan anggaran triliunan rupiah seperti Manchester City, Chelsea, atau Manchester United biasanya memonopoli gelar juara liga. Namun, pada musim kompetisi 2015/2016, hukum kapitalisme sepak bola itu dihancurkan berkeping-keping oleh sebuah klub kecil dari kawasan East Midlands: Leicester City.

Kisah Leicester City menjuarai Premier League bukan sekadar kejutan; ini diakui oleh banyak pakar olahraga sebagai kejutan terbesar dalam sejarah olahraga tim di seluruh dunia. Bagaimana sekumpulan pemain “buangan” dan pelatih yang dianggap sudah habis masanya bisa menaklukkan liga paling kompetitif di planet ini?

Peluang 5000-1: Dianggap Mustahil Secara Matematis

Pada awal musim, bursa taruhan di Inggris mengeluarkan rasio peluang ( odds ) 5000 banding 1 untuk Leicester City menjadi juara. Artinya, bandar menganggap peluang Leicester juara itu sama mustahilnya dengan menemukan alien di bumi atau Elvis Presley ternyata masih hidup.

Maklum saja, musim sebelumnya Leicester nyaris terdegradasi dan baru selamat di pekan-pekan terakhir. Mereka juga baru saja memecat pelatihnya dan menunjuk Claudio Ranieri, pelatih veteran asal Italia yang julukannya saat itu adalah “The Tinkerman” (Si Suka Coba-Coba) dan dianggap sudah ketinggalan zaman.

Skuad “Buangan” yang Menjelma Jadi Pahlawan

Kekuatan magis Leicester justru terletak pada skuad mereka yang berisi pemain-pemain murah dan tidak diinginkan klub besar:

  • Jamie Vardy: Striker yang beberapa tahun sebelumnya masih bermain di liga amatir dan bekerja sebagai buruh pabrik pembuat alat medis. Ia meledak dan mencetak gol di 11 pertandingan berturut-turut!
  • Riyad Mahrez: Pemain sayap kurus asal Aljazair yang dibeli murah dari kasta kedua Liga Prancis. Gocekannya tiba-tiba menjadi yang paling mematikan di Inggris.
  • N’Golo Kante: Gelandang bertahan mungil yang daya jelajahnya tidak masuk akal. Konon, “70% bumi ditutupi air, sisanya ditutupi oleh N’Golo Kante”.

Taktik Serangan Balik Kilat yang Tak Terhentikan

Di saat klub raksasa sibuk bermain penguasaan bola (ball possession), Ranieri meracik taktik serangan balik (counter-attack) super cepat. Leicester membiarkan lawan memegang bola, bertahan dengan sangat rapat yang dikomandoi bek tangguh Wes Morgan dan Robert Huth, lalu merebut bola dan mengirim umpan panjang langsung ke Jamie Vardy yang berlari secepat kilat.

Taktik sederhana ini membuat raksasa-raksasa Inggris frustrasi. Sepanjang musim, Leicester tampil konsisten dan akhirnya mengunci gelar juara saat rival terdekat mereka, Tottenham Hotspur, ditahan imbang Chelsea. Malam itu, pesta meledak di seluruh kota Leicester. Dongeng ini menjadi pengingat abadi bahwa dalam sepak bola, kerja keras dan kekompakan tim masih bisa mengalahkan uang triliunan rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *