5 Indikator Kuat Arsenal Bakal Putus Puasa Gelar Liga Inggris 2026

AnakBola.org – Kemenangan meyakinkan 4-1 atas Aston Villa bukan sekadar tiga poin biasa bagi Arsenal, melainkan sebuah pernyataan tegas di awal tahun. Memasuki 2026, armada Mikel Arteta menunjukkan kematangan mental dan taktik yang berbeda dibanding musim-musim sebelumnya. Harapan suporter The Gunners untuk melihat tim kesayangannya mengangkat trofi Premier League kini memiliki landasan yang sangat logis.
Dominasi Statistik: Raja xG dan Pertahanan Besi
Jika melihat data di atas kertas, Arsenal adalah tim paling seimbang di liga saat ini. Berbeda dengan Aston Villa yang performanya dianggap ‘overperform’ (mencetak gol jauh di atas ekspektasi xG), Meriam London justru menunjukkan konsistensi nyata antara peluang yang diciptakan dan solidnya pertahanan.
Keunggulan utama Arsenal terletak pada angka expected goals against (xGA) atau perkiraan kebobolan. Skuad asuhan Arteta mencatatkan xGA hanya 13,3, jauh lebih baik dibandingkan rival terberat mereka, Manchester City, yang berada di angka 19,4. Data ini menegaskan bahwa Arsenal bukan hanya tajam di depan, tetapi juga memiliki sistem pertahanan paling sulit ditembus di liga.
Evolusi Lini Tengah di Bawah Komando Declan Rice
Kunci stabilitas permainan Arsenal musim ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Declan Rice. Gelandang Timnas Inggris ini bertransformasi menjadi pemain paling komplet, menggabungkan atribut fisik Patrick Vieira dan kreativitas lini tengah era Invincibles. Statistik mencatat Rice melakukan 1.435 sentuhan bola, menempatkannya di jajaran elit penguasa lini tengah.
Kedatangan Martin Zubimendi turut mengubah dinamika permainan. Kehadiran Zubimendi memungkinkan Rice bermain lebih ofensif sebagai pemain nomor 8, memberikan dampak besar dalam transisi serangan. Absennya Rice sempat membuat lini tengah sedikit goyah saat melawan Villa, membuktikan betapa vitalnya peran sang pemain bagi keseimbangan tim di sisa musim.
Solusi Ketajaman dari Kebangkitan Gabriel Jesus
Sempat ada kekhawatiran mengenai efektivitas lini serang setelah rekrutan mahal Viktor Gyokeres belum sepenuhnya nyetel. Namun, kembalinya Gabriel Jesus pasca-cedera ligamen menjadi angin segar yang krusial. Penampilannya yang klinis saat melawan Crystal Palace dan Aston Villa menjawab keraguan publik.
Pujian bahkan datang dari pundit Jamie Carragher yang menilai Jesus saat ini tampil lebih baik dibanding Gyokeres. Kehadiran Jesus memberikan Arteta opsi penyerang yang tidak hanya bisa mencetak gol, tetapi juga fasih dalam link-up play yang menjadi ciri khas permainan Arsenal.
Tren Poin Positif dan Proyeksi Akhir Musim
Secara historis, grafik performa Arsenal menunjukkan peningkatan signifikan. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di mana mereka hanya mengoleksi 39 poin, musim ini The Gunners sudah mengamankan 45 poin.
Berdasarkan analisis komparasi tren poin, Arsenal diprediksi mampu finis dengan 86 poin—angka yang diproyeksikan setara dengan Manchester City. Ini mengindikasikan bahwa persaingan gelar mungkin akan ditentukan oleh margin tipis seperti selisih gol, atau bahkan hasil dari laga “final” di Etihad Stadium pada pertengahan April nanti.
Kemewahan Kedalaman Skuad di Segala Lini
Faktor pembeda terbesar Arsenal versi 2026 adalah kedalaman skuad yang mumpuni. Cedera satu atau dua pemain kunci tidak lagi menjadi kiamat bagi Arteta. Di sektor kiper, David Raya memiliki pelapis sekelas Kepa Arrizabalaga. Lini belakang pun melimpah dengan nama-nama seperti Riccardo Calafiori, Jurrien Timber, hingga Piero Hincapie yang siap menggantikan Gabriel atau Saliba jika absen.
Begitu pula di lini serang dan tengah. Masuknya nama-nama seperti Mikel Merino, Eberechi Eze, hingga talenta muda Ethan Nwaneri memberikan fleksibilitas taktik. Meski saat ini Kai Havertz dan Ben White sedang menepi, kualitas permainan tim tetap terjaga. Kedalaman inilah yang membuat Arsenal siap berlari kencang hingga garis finis.
